Tes Yamaha YZF-R15, gradasi rasa dari titik nol Indonesia

Tes Yamaha YZF-R15, gradasi rasa dari titik nol IndonesiaTes kali ini terasa tidak biasa. Bukan sekadar tempatnya yang berada di luar Jawa, melainkan juga karena ini dimulai di Sabang, tempat titik nol kilometer atau merupakan ujung dari Indonesia.

Ada rasa yang memercik-mercik pula kala menyadari bahwa Yamaha Indonesia sengaja memilih tempat ini untuk memulai, dan berakhir di Danau Toba, tepat tanggal 20 Mei yang merupakan Hari Kebangkitan Nasional.

Terlebih lagi, kami, yang terdiri dari 20 pengendara, duduk di atas Yamaha YZF-R15, motor sport yang dibuat di dalam negeri, buatan Indonesia. Pendek kata, terselip sedikit sentimental akan rasa nasionalisme dalam uji ini.

Campur aduk rasa.

Start dari Museum Tsunami Aceh, perjalanan akan dimulai dengan rute Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak lebih kurang 300 km.

Totalnya sendiri 1.200 km. Setelah Meulaboh, otosia dan yang lain melalui Blangpidie, Tapaktuan, Sabussalam, Sidikalang, Kabanjahe, Parapat alias menelusuri jalur selatan Sumatera, jalur favorit untuk touring.

Tahap pertama, jalur Banda Aceh – Meulaboh, kami anggap cukup mewakili secara keseluruhan untuk mengulas bagaimana kemampuan sesungguhnya R15. Favorit? Bagaimana tidak. Jalur aspal yang membentang masih lumayan mulus. Sementara itu, gradasi rasa akan muncul karena selepas trek lurus, kita bisa tiba-tiba dikejutkan dengan tikungan U, bahkan U yang lebih bengkok lagi.

Perasaan pun bercampur aduk karena di tengah derasnya adrenalin, kami disambut bau laut, julangan-julangan gunung, pemandangan laut lagi, dari yang biru, hingga yang menggelap. Lalu juga ombak dan pasir putih, serta udara murni, yang kapan saja masuk kala kaca helm full-face kami menengadah.

Nyaris menabrak ternak.

Otosia berada pada deretan tengah di antara rombongan. Kami sesekali menyodok ke depan, menghadapi lintasan berkelok, terkadang tajam dan naik tutun bukit. Perlu ekstra kemampuan riding untuk menaklukan trek tersebut dalam kondisi kecepatan menengah. Kami menjadi ketagihan bermanuver lantaran dukungan riding position dan stang jepit yang enak untuk diajak meliuk-liuk dan merebah.

Namun karena terkesima dengan arsitektur alam Aceh, otosia sempat terlena dan lupa menguji R15 untuk bekerja lebih keras guna mendapatkan hasil obyektif soal kemampuannya bermanuver, dan berakselerasi, termasuk mengejar kecepatan puncak.

Pasca-masuk ke trek berkoridor jurang dengan hutan dan tikungan tajam, otosia coba merebah hingga jarak antara dengkul dan aspal tersisa 10cm saja.

Ini bisa kami lakukan lantaran Yamaha mendesain pembagian bobot depan-belakang motor nyaris setengah depan dan setengah belakang (49,3 persen di depan, 50,7 persen belakang) membuat motor 150cc dengan power 16,5 hp ini “jinak” saat dikendalikan.

Tanpa sadar pula, tarikan, hingga manuver-manuver dalam sudut tipis terasa enteng berkat dukungan sasis-nya yang masih impor itu. Bahan bakunya aluminium, dan rasanya ringan sekaligus rigid kala menopang tekanan akselerasi.

Harus diakui, rombongan kami bukanlah rider profesional layaknya pebalap. Sesekali beberapa peserta, termasuk Otosia, telat melakukan “late braking” atau menurunkan gigi. Akibatnya, pada tikungan patah, di antara kami banyak yang melebar hingga menyentuh bibir jalan.

Saat mata sudah menangkap bahwa di depan kelokan menurun, maka kami yakin bahwa ini saatnya menguji rem cakram R15.

Bukan apa-apa. Ukurannya beda. Diameternya lebih besar 2 cm dari yang ada di V-ixion kalau mau dijadikan contoh. Cakram depan di R15 punya ukuran 26,7 cm, sementara yang belakang 22 cm.

Dengan lincahnya gerak laju yang didukung swing arm dan porsi bobot tadi, maka cakram besar ini boleh dibilang sebagai dewa penolong, sangat pakem, sehinga menghindarkan kami nyelonong dan, amit-amit, menabrak rider di depan.

Mungkin ini pula yang menjadi alasan mengapa Yamaha memasangkan ban IRC Road Winner 90/80 di depan, dan 130/70 belakang. Ukuran dan bahan ban tersebut mantap menempel di aspal, tanpa ada gejala sliding.

Tes R15 pun hampir mencapai klimaks ketika tiba-tiba ternak penduduk, sapi, kambing, dan kerbau “nyelonong” masuk ke tengah jalan. Di beberapa titik, otosia nyaris melibas sekumpulan hewan ternak yang menyeberang padahal saat itu angka di speedometer menunjukan 120 km/jam!

Pada kecepatan yang nyaris puncak itu (maks 138 km/jam), paduan handling position, rem, lengan ayun teruji secara ekstrem, membantu Otosia mengatasinya. Di trek landai lurus menggoda, otosia sanggup menuai kecepatan puncak 138 km/jam. Ada beberapa diantara jurnalis yang cuma mendapat di angka 130-132 km/jam. Ini sebuah tes top speed yang kami anggap representatif, mencari kecepatan maksimal di jalur datar lurus, bukan jalan lempeng lalu menurun!

Beruntung, tak ada yang jadi korban. Yang ada hanyalah aksi manuver gesit menghindari hewan-hewan ini.

Adu dengan Yamaha V-Ixion.

Pernah dengar ada yang bilang kalau R15 tak ubahnya V-Ixion berfairing? Kami lagi-lagi beruntung untuk mengujinya langsung.

Saat melewati trek lurus, di antara kami ada yang mencoba balap kecil-kecilan. Ini bukan sok-sokan, melainkan sekadar mencoba mencari tenaga penuh R15. Pada putaran bawah, tenaga yang didapat tidaklah begitu menghentak. Memasuki RPM 7.000 ke atas, dorongan tenaga dari putaran tengah dan atas mulai terasa.

Kebetulan, salah satu sweeper dari rombongan test ride menggunakan Vixion yang sudah memakai knalpot racing. Dengan sedikit kode-kode bahas tubuh, kami pun adu performa.

Beberapa kali di trek lurus, Otosia sempat memimpin. Bahkan R15 sanggup mengejar sampai akhirnya meninggalkannya.

Terbukti, pada putaran tengah, R15 mulai menyusul, sampai akhirnya melewati V-Ixion. Nilai aeroninamika yang dimiliki R15, serta sokongan ECU yang berbeda, dan tentu saja napas yang lebih panjang lantaran bertransmisi 6-percepatan (V-Ixion 5-percepatan) memungkinkan kemenangan dalam ajang dadakan ini.

Akhirnya insiden juga.

Bagaimana dengan kekuatan bahan fairing dan sein, serta body R15? Tidak bermaksud menguji atau membeturkan R15 dengan obyek lain. Namun dalam sebuah insiden kecil, R15 kami sempat masuk parit dan menghantam tebing tanah.

Sungguh di luar dugaan, fairing dan body depan tidak pecah, bahkan tidak retak. Hanya baret kecil, yang nyaris tak terlihat. Tim mekanik yang mengecek menyatakan bahwa body, termasuk segitiga, tidak ada masalah. Perjalanan pun aman untuk dilanjutkan.

Sungguh… uji tahap pertama ini penuh dengan gradasi rasa. Kami akhirnya sampai di pemberhentian kedua sejauh 80 km menuju finis tahap pertama di dealer Yamaha Meulaboh.

Namun dalam catatan kami di tahap pertama, soal kekencangan baut spion depan menjadi persoalan. Beberapa kali otosia ekstra hati-hati berpindah jalur lantaran spion kendur dan menekuk – baik diterpa angin kencang dan guncangan, sehingga tidak bisa melihat ke belakang lewat kaca spion.

Cuma hal sepele memang, tapi ini menjadi catatan penting yang musti diperhatikan pihak penyelenggara dan rider yang menguji motor baru, bahwa hal sekecil apapun yang terlupakan saat test ride bisa berakibat fatal bagi pengendara dan orang lain.

Sumber : Merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s